16 Ribu Hektare Lahan Kekeringan

17 Sep 2018, 10:38:20 WIBKabar Kaltim

16 Ribu Hektare Lahan Kekeringan

Jika Tak Hujan, Terancam Gagal Panen

PENAJAM – Kemarau berkepanjangan membuat lahan pertanian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kekurangan air. Setidaknya, sekitar 16.938 hektare lahan yang sudah ditanami petani dilanda kekeringan. Lahan seluas itu terancam puso atau gagal panen, jika tak ada hujan hingga akhir bulan depan.

Menurut data Dinas Pertanian (Distan) PPU, luasan lahan yang paling banyak terancam gagal panen berada di Kecamatan Babulu. Yakni, 10.757 hektare. Lalu disusul Kecamatan Penajam seluas 2.472 hektare, Kecamatan Sepaku seluas 2.000 hektare, dan Kecamatan Waru dengan luasan 1.709 hektare.

“Karena kekeringan hampir merata di seluruh kecamatan,” kata Kepala Distan PPU Joko Dwi Fetrianto yang ditemui Kaltim Post, akhir pekan lalu. Pada periode tanam April hingga September (Asep) tahun 2018, ada 16.938 hektare lahan yang sudah ditanami padi. Tahun ini, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan lahan yang ditanami padi di Kabupaten PPU seluas 18 ribu hektare.

Sehingga masih menyisakan sekira 1.062 hektare, yang akan dituntaskan pada musim tanam Oktober hingga Maret (Okmar) tahun depan. “Kami yakin, bisa memenuhi target pada musim paceklik ini. Mudah-mudahan Oktober, ada hujan. September ini aja yang tidak ada hujan,” harapnya.

Dari lahan yang sudah ditanami, Joko optimistis bisa menghasilkan sekira 4 ton beras saat panen di akhir masa tanam Asep. Karena lahan yang sudah ditanami tersebut, tanaman padinya masih hidup. Meskipun lahannya kekeringan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan, jika tak ada hujan, hingga Oktober 2018, padi yang sudah ditanam akan mati.

“Problem sawah yang tidak memiliki sistem irigasi memang setiap tahunnya seperti ini. Karena hanya mengandalkan pasokan air dari hujan,” ucapnya. Joko berharap, solusi untuk mengatasi kekeringan yang terus terjadi setiap tahun ini, dengan membangun bendungan untuk irigasi lahan pertanian warga. Yakni Bendung Lambakan dan Bendung Gerak Telake, untuk irigasi pertanian di Kabupaten Paser dan PPU.

Bendungan tersebut yang berada di Kabupaten Paser. Yang menurut perencanaan konstruksinya, akan dibangun tahun depan. “Kalau bendungan itu selesai dibangun, kita enggak dikendalikan alam kayak sekarang. Dalam satu tahun, bisa tiga kali panen,” tandasnya.

Misyanto (75), petani di Desa Sidorejo, Kecamatan Penajam, menuturkan musim kemarau sudah melanda sejak April 2018. Sehingga dia memutuskan untuk melakukan penanaman pada Juli 2018. Namun, karena tidak ada pasokan air hujan selama dua bulan terakhir, lahan pertanian miliknya sekira 0,5 hektare terancam gagal panen. “Padinya masih hidup, tapi tanahnya pecah-pecah karena enggak ada air. Lebar pecahannya bisa sampai 5 cm,” keluhnya.

Pria paruh baya itu berharap memasuki awal Oktober 2018, ada hujan untuk mengaliri areal sawah miliknya. Sehingga padi yang sudah dia tanam kembali segar. Dan dapat dipanen di awal masa tanam Okmar. “Ya, kalau masih seperti ini, tidak ada hujan sampai bulan depan, bisa-bisa (padi) mati. Dan terancam gagal panen,” pungkasnya. (*/kip/kri/k8)