Jagung Masih Andalan Kaltim

04 Jan 2018, 08:37:28 WIBKabar Kaltim

Jagung Masih Andalan Kaltim

SAMARINDA – Meski sudah swasembada, pemerintah terus meningkatkan produksi jagung di Bumi Etam. Tahun ini, pemerintah memproyeksikan lahan jagung produktif 16.032 hektare. Sedangkan untuk produksi ditargetkan mencapai 78.868 ton jagung.

Setiap tahun produksi jagung di Kaltim memang terus meningkat. Berau merupakan kabupaten pemasok terbesar, dengan sumbangan 65,84 persen dari total produksi jagung Kaltim yang mencapai 55.597 ton.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim Ibarahim mengatakan, harga jagung saat ini masih Rp 4.000 per kilogram. Tidak begitu mahal namun masih menguntungkan petani. Saat ini, jagung memang masih menjadi andalan Bumi Etam. Hal itu karena baik luas areal tanam jagung maupun produksinya sama-sama terus meningkat.

“Luas areal jagung pada 2016 hanya 4.948 hektare. Pada 2017 langsung meningkat 6.192 hektare atau 125,12 persen. Sehingga pada 2017, luas areal jagung menjadi 11,139 hektare,” tuturnya Senin (2/7).

Menurutnya, tahun ini jagung masih terus dikembangkan. Untuk luasan areal lahan jagung pada 2018 ditargetkan mencapai 16.032 hektare. Atau bertambah 4.893 hektare jika dibandingkan 2017. “Berau masih menjadi lumbung jagung Kaltim. Tercatat, Berau memasok 65,84 persen dari total produksi jagung Kaltim sebesar 56.597 ton,” ungkapnya,

Dia mengatakan, untuk produksi jagung saat 2016 sebanyak 22.132 ton. Lalu naik menjadi 56.597 ton pada 2017 atau meningkat 155 persen. Sehingga jika dirupiahkan, mencapai Rp 226,388 miliar. “Tahun ini, produksi direncanakan mencapai 78.868 ton atau naik 39,35 persen dari 2017,” ungkapnya.

Ibrahim mengatakan, masyarakat memang terlihat menyukai menanam jagung dari pada padi atau komoditas lainnya. Hal itu disebabkan budidaya jagung tidak terlalu rumit dan tidak memerlukan air dalam jumlah banyak dibanding bertanam padi, kemudian pemeliharaannya juga lebih sederhana.

“Sedangkan untuk padi memiliki tantangan besar. Saat ini petani selalu dihadapkan kesulitan air pada bulan-bulan curah hujan rendah, sedangkan pada musim hujan kebanjiran,” katanya.

Dia menjelaskan, irigasi teknis sebenarnya yang diperlukan petani. Namun, membuat irigasi teknis memerlukan cukup besar dana. Sedangkan pihaknya mengaku keuangan cukup terbatas. “Bendungan yang dibangun pemprov untuk membantu irigasi petani belum selesai. Sehingga membuat masyarakat sulit mengembangkan padi. Jagung memang masih menjadi andalan,” tutupnya. (*/ctr/ndu/k18)