Lahan Kering dan Rawa Kita

09 Nov 2018, 08:49:43 WIBKabar Kaltim

Lahan Kering dan Rawa Kita

Indonesia sampai tahun 2045 memerlukan tambahan lahan krang lebih 14 juta hektar. Luas penambahan lahan tersebut sudah mempertimbangkan pertambahan penduduk 1,3%, alih fungsi lahan rata-rata sekitar 60-90 ribu hektar pertahun, serta asumsi produktivitas sekitar 5,3 ton/hektar.

Kami senantiasa berusaha melakukan terobosan baru, Kementerian Pertanian dengan ekstensifikasi penanaman padi melalui program perluasan Areal Tanam Baru (PATB) terus dilakukan karena kondisi eksisiting lahan sawah sangat sulit untuk dilakukan perluasan.

Potensi lahan kering di Indonesia 10 juta hektar sementara potensi lahan rawa dan lebak sekitar 10 juta hektar. Total keseluruhan ada 20 juta hektar. Lahan rawa sebagian besar berada di Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Tengah. Sementara lahan kering paling banyak di Lampung. Saya menargetkan program pemanfaatan lahan tersebut bisa direalisasikan secara bertahap tiap tahunnya. Ini bisa memberi makan 500 juta penduduk Indonesia bahkan sampai satu miliar penduduk masih aman.

Pemanfaatan lahan kering dan rawa bisa diterapkan rainwater harvesting technology melalui pembangunan embung, sumur dangkal dan sumur dalam, dam kecil, dam parit, dan seterusnya. Untuk lahan melalui pembangunan long storage.

Kami berupaya mengoptimalkan lahan kering dan lahan rawa untuk mewujudkan kedaulatan pangan, khusunya untuk penyediaan beras dan juga ingin meningkatkan taraf hdup masyarakat dan menghentaskan kemiskinan.

Permasalahan utama yang menghambat peningkatan produksi padi dilahan rawa antara lain terjadinya dinamika luapan air pasang maupun sungai besar, kemasaman tanah, keracunan Fe, Aluminium, defisiensi hara Ca, Mg, dan P. Tingkatan kendala-kendala tersebut bergam antartipologi lahan. Selain itu, ancaman botik berupa serangan hama dan penyakit juga menjadi faktor pembatas produksi padi di area tersebut. Berbagai cekaman ini berfuktuasi pada musim yang berbeda dan berefek negatif terhadap pertumbuhan padi dan produktivitasnya di lahan ini. Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk mengembangkan lahan rawa, baik varietas, teknik budidaya dan pengendlaian hama penyakit.

Kami terus melakukan berbagai macam upaya untuk mengembangkan varietas-varietaspadi tertentu yang dapat hidup adaptif pada kondisi lingkungan yang keras seperti di lahan kering dan rawa.

Beberapa varietas padi unggul terbaru yang adaptif pada kondisi agroekosistem di lahan PSTB lahankering dan lahan rawa, adalah sebagai berikut: Varietas Inpago-12 Agrita sesuai untuk lahan keing masam dengan tingkat kemasaman >60 Aldd, varietas Rindang-1 dan Rindang-yang toleran terhadap kondisi naungan 50-70% dikhususkan untuk pengembangan padi di lahan perkebunan muda, varietas Luhur-1 dan Luhur-2, untuk lahan dataran tinggi diatas 750 meter diatas permukaan laut, varietas Inpara 8 dan Inpara 9 yang tahan terhadap keracunan Fe dan rendaman. Varietas Inpago untuk lahan kering, padi amfibi yang tahan di musim hujan dan kemarau, serta varietas lainnya.

Dari segi teknik budidaya Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah merakit system budidaya lahan kering yang memadukan system budidaya organic dan mekanisasi sehingga meghasilkan daya hasil gabah tinggi, lebih efisien dan ramah lingkungan. Sistem budidaya ini dinamakan Largo Super (Larikan Padi Gogo Super), dimana sekarang ini sedang dikembangkan seluas 100 hektar di Kebumen, Jawa tengah. Kedepan, kami akan merakit system budidaya yang sama dengan Largo Super di lahan rawa yang lebih produktif dan berdaya hasil tinggi.

Untuk pengelolaan Lahan Kering, selain ada teknologi Largo Super, larikan padi gogo yang dikombinasikan dengan pemupukan berimbang menggunakan kompos, pupuk hayati, decomposer, dan lain-lain. Tak kalah pentingnya adalah teknologi pengelolaan air melalui pembuatan dam parit, embung, maupun teknologi sadap air.

Selain itu, ada teknologi irigasi hemat air yang bisa mengurangi penggunaan air. Penggunaan air untuk jagung normalnya 0,6 liter/detik, dengan efektivitas yang sama.

Ketersediaan varietas unggul dan teknologi system budidaya di lahan kering dan lahan rawa ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani di daerah lahan kering dan rawa yang selama ini dianggap marginal dan tidak tersentuh oleh teknologi.

Dengan meningkatnya produktivitas dan meningkatnya taraf hidup seta kesejahteraan petani diharapkan dapat Indonesia dapat berdaulat dalam penyedian pangan dan bisa mewujudkan kedaulatan pangan.

Insha Allah, Kemente