Serap Gabah Turun 50 Persen, KTNA Minta Bulog Jangan Main-Main

26 Mei 2017, 07:56:41 WIBBerita Nasional

Serap Gabah Turun 50 Persen, KTNA Minta Bulog Jangan Main-Main

sta yang ada," ucapnya.

Winarno pun menegaskan buruknya kinerja Bulog dalam menyerap gabah petani dapat memberikan dampak negatif yang fatal terhadap ruang yang terbuka lebar bagi para tengkulak untuk membeli gabah petani dengan harga murah. Di sisi lain, berakibat pada lemahnya ketahanan pangan nasional karena stok beras nasional jauh dari target, sehingga berpotensi besar menciptakan impor.

“Inilah pentingnya Bulog tidak boleh diam dan main-main, harus turun cepat serap gabah petani agar harga stabil atau menguntungkan petani, stok beras nasional terjaga dan impor jangan sampai terjadi," tegasnya.

Udin Saefudin, petani di Kampung Koleberes, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Sukabumi mengungkapkan turunnya harga gabah memang sudah menjadi tren ketika musim panen. Harga gabah saat ini turun sampai Rp 1.000 per kilogram. Padahal, harga gabah sebelumnya Rp4.200 per kilogram, akan tetapi saat ini hanya Rp3.200 per kilogram. 

“Jika tak naik berarti turun. Tanpa adanya faktor yang pasti petani lagi-lagi menjadi objek permainan tengkulak demi meraup keuntungan,” ungkapnya.

Demikina juga yang dialami Jufri, petani di Karawang, Jawa Barat mengeluhkan tidak hadirnya Bulog di tengah musim panen berlangsung. Padahal katanya, turunya Bulog di lapangan sangat penting karena harga gabah sedang anjlok.

“Kami berusaha keras untuk menanam padi karena pemerintah melalui Bulog akan beli dan jamin harga yang untungkan petani. Tapi kenyataanya sekarang tidak ada Bulog yang turun beli gabah kami. Jadinya, para tengkulak leluasa turun beli murah gabah kami petani,” tuturnya.

Biro Humas dan Informasi Publik Kementan