Swasembada Pangan Suatu Keharusan

12 Jan 2018, 07:31:03 WIBKabar Kaltim

Swasembada Pangan Suatu Keharusan

 Hasil pantauan beberapa kecamatan seperti Kecamatan Jambu, Ambarawa. Banyubiru, Pabelan dan Tuntang petani panen dapat kita jumpai. Sebagai contoh petani Desa Brongkol, Kecamatan Jambu yang tergabung kelompok tani (Poktan) Makmur 1, Gapoktan Karya Makmur. Penghasilan dan lahan utama desa ini sebenarnya bukan hanya padi sawah, namun juga kebun durian dan kopi.  Kalau kita masuk ke desa ini, kita akan disambut dengan patung durian pada gapura masuk desa. Menurut Ketua Poktan Bapak Daryo, petani menanam padi varietas IR64, Ciherang, dan yang paling baru Inpari 32.

Inpari 32 memiliki produktivitas paling tinggi di desa ini yaitu 6-7 ton.  Hasil ini masih dapat ditingkatkan bila petani dapat menerapkan teknologi baru seperti Jajar Legowo Super. Inilah tugas penyuluh. Penyegaran penyuluh dengan teknologi baru sangat diperlukan. Karena itu, peran Badan Penyuluhan Daerah atau juga BPTP Balitbangtan Kementan Jateng sangat ditunggu.

 Petani lain seperti Desa Pojoksari, Kecamatan Ambarawa yang saat ini masih menggunakan varietas unggul lama seperti mamberamo, inpari sidenok, beberapa waktu menerima bantuan  benih padi inpari 30 dari Balitbangtan Kementan. Penting sekali penyebaran beberapa varietas unggul baru (VUB) di beberapa daerah agar produktivitas padi dapat ditingkatkan.  Tentu saja, penggunaan VUB diikuti dengan penerapan teknologi budidaya terbaik seperti Jajar legowo Super akan sangat membantu peningkatan produktivitas lebih tinggi lagi.  Beberapa  daerah di Kabupaten Semarang juga masih menyenangi berbagai varietas unggul  lokal seperrti pandan wangi dan umbul. Dalam rangka peningkatan pendapatan petani, selain teknologi budidaya juga perlu diterapkan teknologi pasca panen. Tentu saja semuanya tidak berarti bila harga gabah tidak kondusif. Karena itu, petani tidak menginginkan adanya i